Sabtu, 27 September 2014

Nak - Iwan Fals

Jauh jalan yang harus kau tempuh

Mungkin samar bahkan mungkin gelap

Tajam kerikil setiap saat menunggu

Engkau lewat dengan kaki tak bersepatu


Duduk sini nak dekat pada bapak

Jangan kau ganggu ibumu

Turunlah lekas dari pangkuannya

Engkau lelaki kelak sendiri

Berkacalah Jakarta - Iwan Fals

Langkahmu cepat seperti terburu
Berlomba dengan waktu
Apa yang kau cari belumkah kau dapati
Diangkuh gedung gedung tinggi

Riuh pesta pora sahabat sejati
Yang hampir selalu saja ada

Isyaratkan enyahlah pribadi

Lari kota Jakarta lupa kaki yang luka
Mengejek langkah kura kura
Ingin sesuatu tak ingat bebanmu
Atau itu ulahmu kota

Ramaikan mimpi indah penghuni

Jangan kau paksakan untuk berlari
Angkuhmu tak peduli
Luka di kaki

Jangan kau paksakan untuk tetap terus berlari
Bila luka di kaki belum terobati
Berkacalah Jakarta

Lari kota Jakarta lupa kaki yang luka
Mengejek langkah kura kura
Ingin sesuatu tak ingat bebanmu
Atau itu ulahmu kota

Ramaikan mimpi indah penghuni

Jangan kau paksakan untuk berlari
Angkuhmu tak peduli
Luka di kaki

Jangan kau paksakan untuk tetap terus berlari
Bila luka di kaki belum terobati
Berkacalah Jakarta

Maaf Cintaku - Iwan Fals

Ingin kuludahi mukamu yang cantik
Agar kau mengerti bahwa kau memang cantik
Ingin kucongkel keluar indah matamu
Agar engkau tahu memang indah matamu

Harus kuakui bahwa aku pengecut
Untuk menciummu juga merabamu
Namun aku tak takut untuk ucapkan
Segudang kata cinta padamu

Mengertilah
Perempuanku

Jalan masih teramat jauh
Mustahil berlabuh
Bila dayung tak terkayuh

Maaf cintaku
Aku menggurui kamu

Mengertilah
Perempuanku

Jalan masih teramat jauh
Mustahil berlabuh
Bila dayung tak terkayuh

Maaf cintaku
Aku nasehati kamu

Maaf cintaku
Aku menggurui kamu

Maaf cintaku
Aku nasehati kamu

Maaf cintaku
Aku menggurui kamu

Adzan Subuh Masih Di Telinga - Iwan Fals

Ketika fajar menjelang
Terlihat dia melangkah enggan
Seirama dengan dendang subuh
Yang singgah di hati keruh

Sempit jalan berdesak bangunan
Memandang sinis mendakwa bengis
Perempuan satu dan hitamnya waktu

Dihapusnya gincu dengan ujung baju
Dibuangnya dengus birahi sejuta tamu

Hari pagi menyambut kau kembali
Mengusap nadi mengelus hati
Sesal di hatimu kian mengganggu

Kau reguk habis semua doa doa
Dari surau depan rumah yang kau sewa
Tak terasa surya duduk di kepala
Azan subuh masih di telinga

Terdengar renyah tawa gadis sekolah
Menyibak tabir cerita lama
Didepan retaknya cermin yang telah usang
Menari dia seperti dahulu

Terdengar pelan ketuk pintu
Tegur anakmu buyarkan lamunan
Perempuan satu kian terbelenggu

Dihapusnya gincu dengan ujung baju
Dibuangnya dengus birahi sejuta tamu

Serdadu - Iwan Fals

Isi kepala di balik topi baja
Semua serdadu pasti tak jauh berbeda
Tak peduli perwira bintara atau tamtama
Tetap tentara

Kata berita gagah perkasa
Apalagi sedang kokang senjata
Persetan siapa saja musuhnya
Perintah datang karang pun dihantam

Serdadu seperti peluru
Tekan picu melesat tak ragu
Serdadu seperti belati
Tak dirawat tumpul dan berkarat

Umpan bergizi titah bapak menteri
Apakah sudah terbukti ?
Bila saja masih ada buruknya kabar burung
Tentang jatah prajurit yang di kentit

Serdadu seperti peluru
Tekan picu melesat tak ragu
Serdadu seperti belati
Tak dirawat tumpul dan berkarat

Lantang suaramu otot kawat tulang besi
Susu telur kacang hijau ekstra gizi
Runtuh dan tegaknya keadilan negeri ini
Serdadu harus tahu pasti

Serdadu baktimu kami tunggu
Tolong kantongkan tampang serammu
Serdadu rabalah dada kami
Gunakan hati jangan pakai belati

Serdadu jangan mau di suap
Tanah ini jelas meratap
Serdadu hoi jangan lemah syahwat
Nyonya pertiwi tak sudi melihat

Tolong Dengar Tuhan - Iwan Fals

Hei Tuhan
Apakah kau dengar
Jerit umatmu
Diselah tebalnya debu

Hei Tuhan
Adakah kau murung
Melihat beribu wajah berkabung
Disisa gelegar Galunggung

Hei Tuhan
Tamatkan saja
Cerita pembantaian orang desa
Yang jelas hidup tak manja

Hei Tuhan
Katanya engkau maha bijaksana
Tolong Galunggung pindahkan ke kota
Dimana tempat segala macam dosa

Berat beban kau datangkan
Pada mereka disana
Cela apa nista apa
Hingga engkau begitu murka
Sungguh ku tak mengerti

Hingar tangis karena adzabmu
Setiap detik duka berpadu
Semakin keras jerit tak puas
Dari mereka yang resah bertanya
Adilkah keputusanmu

Acap kali rintih memaki
Setiap duka tuding Ilahi
Jangan salahkan kecewa kami
Bosan dalam irama takdirmu
Walau ku tak terganggu

Bukankah kau maha tahu
Pengasih penyayang
Namun mengapa selalu saja
Itu hanya cerita

Hei Tuhan
Tolong hentikan
Hei Tuhan
Dengar rintihan

Amuk lahar yang datang hanguskan bumi
Tinggalkan arang penghuni desa pergi
Gemuruh batu hancurkan saudaraku
Ulurkan tangan bantulah sesamamu

Tuhan
Salah apakah mereka

Mungkin - Iwan Fals

Di negeri ini apa saja bisa terjadi
Untuk mendapatkan keadilan
Kalau perlu membeli

Yang hitam bisa menjadi putih
Yang putih pun begitu
Terhadap yang benar saja sewenang wenang
Apalagi yang salah

Sebenarnya ini cerita lama
Tapi nyatanya sampai kini
Masih sama

Banyak pengacara berjaya karenanya
Pengangguran banyak acara itulah dia
Tekak tekuk hukum sudah menahun
Pengadilan bagai sarang para penyamun

Hukum mudah dipermainkan
Pasal pasalnya mulur mungkrek
Sampai kapan ini berjalan
Kok semakin hari bertambah ruwet

Kalau mau menang harus punya uang
Yang bokek tak masuk hitungan

Ada hakim dilempar sepatu
Itu artinya tak mau dimadu

Yang gila lagi
Orang gila masuk persidangan

Punya pengacara yang juga gila
Hakimnya gila
Jaksanya gila
Jangan jangan semuanya sudah gila
Termasuk dokternya
Termasuk saya
Mungkin

Dendam Damai - Iwan Fals

Tak habis pikir aku tak mengerti
Mengapa ada orang yang senang membunuh
Hanya karena uang semata
Atau demi kuasa dan nama

Bagi kita rakyat biasa
Tak berdaya ditodong senjata
Mencuri hidup yang hanya sekali
Hanya berdoa yang kita bisa

Dendam-dendam celaka
Menghasut kita tak jemu menggoda
Damai-damai dimana
Bersembunyi tak ada wujudnya

Kapan berakhirnya situasi seperti ini
Tidak bisakah kita saling berpelukan

Bukankah indah hidup bersama
Saling berbagi saling menyinta
Terasa hangat sampai ke jiwa
Memancar ke penjuru dunia

Jangan goyah percayalah teman
Perang itu melawan diri sendiri
Selamat datang kemerdekaan
Kalau kita mampu menahan diri

Hanya karena itu semua
Rela hancurkan tanah tercinta

22 Januari - Iwan Fals

22 Januari kita berjanji
Coba saling mengerti apa didalam hati

22 Januari tidak sendiri
Aku berteman iblis yang baik hati

Jalan berdampingan
Tak pernah ada tujuan
Membelah malam
Mendung yang selalu datang

Ku dekap erat
Ku pandang senyummu
Dengan sorot mata
Yang keduanya buta

Lalu kubisikan sebaris kata-kata
Putus asa sebentar lagi hujan

Dua buku teori kau pinjamkan aku
Tebal tidak berdebu kubaca slalu

Empat lembar fotomu dalam lemari kayu
Kupandang dan kujaga sampai kita jemu

Ancur - Iwan Fals

Namamu slalu kubisiki, dalam tidurku
Dalam mimpiku, setiap malam
Hangat tubuhmu, melekat dikulitku
Beribu peluk beribu cium kita lalui

Tapi kau kabur
Dengan duda anak tiga pilihan ibumu
Hatiku hancur
Berserakan, berhamburan kayak jeroannya binatang

Ya Sudahlah
Kumenangis seadanya sekuat tenaga
Ya sudahlah
Kau memang setan alas nggak punya perasaan

Ancur

Doaku diakad nikahmu
Smoga siduda diracun orang
Biar cepet mampus

Tante Lisa - Iwan Fals

Di rumah megah ada seorang nyonya
Ramping bodinya
Lagaknya centil dan tak mau kalah
Dengan gadis remaja

Melirik matanya
Bila melihat pemuda
Yang gagak perkasa
Apalagi dia orang kaya

Hei tante Lisa
Wajahmu kini semakin mempesona
Hei tante Lisa
Setahun sudah kau jadi janda

Perceraian terjadi
Gara gara sang suami
Tak tahan melihat
Tante Lisa bercumbu dengan tetangga

Hei tante Lisa
Wajahmu kini semakin mempesona
Hei tante Lisa
Setahun sudah kau jadi janda

Hei tante Lisa
Banyak tuan-tuan berkencan bersamamu
Hei tante Lisa
Lihat usiamu yang semakin tua

Berandal Malam Di Bangku Terminal - Iwan Fals

Sebentar lagi pagi kan datang
Waktu sang bulan malas untuk pulang
Dibangku terminal benakmu bertanda
Gelisah seorang merasa terbuang

Sedetik ingatnya seribu angannya
Dambakan malam terus berbintang
Dibawah sadarnya nasib bercerita
Hangatnya surya bara neraka

Sampai kapan kau akan bertahan
Dicari langit tak sanggup menjerit
Hitam awan awan pasrah kau jilati
Kusam kau dekap
Dengan muak kau lelap
Pagi yang hingar dengan sadar engkau gentar

Jangan-jangan pagi kau hadirkan
Biarkan malam terus berjalan
Jangan-jangan mentari kau terbitkan

jangan-jangan pagi kau datangkan
Kumohon dan aku harapkan
Jangan-jangan mentari kau terbitkan

Dengarlah Tuhan
Apa yang dibisikan
Berandal malam di bangku terminal

Puing II - Iwan Fals

Perang perang lagi 
Semakin menjadi 
Berita ini hari
Berita jerit pengungsi

Lidah anjing kerempeng
Berdecak keras beringas 
Melihat tulang belulang 
Serdadu boneka yang malang

Tuan tolonglah tuan 
Perang dihentikan 
Lihatlah ditanah yang basah 
Air mata bercampur darah

Bosankah telinga tuan
Mendengar teriak dendam 
Jemukah hidung tuan 
Mencium amis jantung korban

Jejak kaki para pengungsi 
Bercengkrama dengan derita 
Jejak kaki para pengungsi 
Bercerita pada penguasa( Bercerita pada penguasa )

Tentang ternaknya yang mati
Tentang temannya yang mati 
Tentang adiknya yang mati 
Tentang abangnya yang mati 
Tentang ayahnya yang mati 
Tentang anaknya yang mati 
Tentang neneknya yang mati
Tentang pacarnya yang mati
Tentang istrinya yang mati
Tentang harapannya yang mati

Perang perang lagi
Mungkinkah berhenti 
Bila setiap negara
Berlomba dekap senjata

Dengan nafsu yang makin menggila 
Nuklir pun tercipta
Tampaknya sang jenderal bangga 
Dimimbar dia berkata

Untuk perdamaian (bohong)
Demi perdamaian (bohong) 
Guna perdamaian (bohong) 
Dalih perdamaian (bohong)

Mana mungkin 
Bisa terwujudkan 
Semua hanya alasan 
Semua hanya bohong besar

Puing I - Iwan Fals

Puing berserakan disegenap penjuru
Bekas pertempuran
Bau amis darah sisa asap mesiu
Sesak napasku

Mayat mayat bergeletakan
Tak terkubur dengan layak

Dan burung burung bangkai
Menatap liar
Dan burung burung bangkai
Berdansa senang

Diujung sana banyak orang kelaparan
Diujung lainnya wabah busung menyerang
Disudut sana banyak orang kehilangan
Disudut lainnya bayi bertanya bimbang

Mama kapan ayah pulang?
Mama sebab apa perang?

Mayat mayat bergeletakan
Tak terkubur dengan layak

Dan burung burung bangkai
Menatap liar
Dan burung burung bangkai
Berdansa senang

Banyak jatuh korban
Dari mereka
Yang tak mengerti apa apa

Suara tangis terdengar dari bekas reruntuhan
Seorang ibu muda yang baru melahirkan
Lama meratapi sesosok tubuh mayat suaminya

Dan burung burung bangkai
Menatap liar
Dan burung burung bangkai
Berdansa senang

Tinggi peradaban teknologi berkembang
Senjata hebat terciptakan
Sarana pembantaian semakin bisa diwujudkan
Oh mengerikan

Berhentilah jangan salah gunakan
Kehebatan ilmu pengetahuan
Untuk menghancurkan

Dan burung burung bangkai
Menatap liar
Dan burung burung bangkai
Berdansa senang

Jendela Kelas Satu - Iwan Fals

Duduk di pojok bangku deretan belakang
Di dalam kelas penuh dengan obrolan
Slalu mengacau laju khayalan

Dari jendela kelas yang tak ada kacanya
Dari sana pula aku mulai mengenal
Seraut wajah berisi lamunan

Bibir merekah dan merah selalu basah
Langkahmu tenang kala engkau berjalan
Tinggi semampai gadis idaman

Kau datang membawa
Sebuah cerita
Darimu itu pasti lagu ini tercipta
Darimu itu pasti lagu ini tercipta

Dari jendela kelas yang tak ada kacanya
Tembus pandang kekantin bertalu rindu
Datang mengetuk pintu hatiku

Aku Antarkan - Iwan Fals

Aku antar kau
Sore pukul lima
Laju roda dua
Seperti malas tak beringas

Langit mulai gelap
Sebentar lagi malam
Namun kau harus kembali
Tinggalkan kota ini

Saat lampu lampu mulai dinyalakan
Semakin erat lingkar lenganmu di pinggangku
Jarak bertambah dekat dua kelok lagi
Stasiun bis antar kota pasti terlihat

Tak terasa seminggu
Sudah engkau di pelukku
Tak terasa seminggu
Alangkah cepatnya waktu
Tak terasa seminggu
Rakus kulumat bibirmu
Tak terasa seminggu
Tak bosan kau minta itu

Tiba di tujuan
Mesin ku matikan
Jariku kau genggam
Seakan enggan kau lepaskan

Saat lampu lampu mulai dinyalakan
Semakin erat lingkar lenganmu di pinggangku
Jarak bertambah dekat dua kelok lagi
Stasiun bis antar kota pasti terlihat

Tak terasa seminggu
Sudah engkau di pelukku
Tak terasa seminggu
Alangkah cepatnya waktu
Tak terasa seminggu
Rakus kulumat bibirmu
Tak terasa seminggu
Tak bosan kau minta itu

Semoga Kau Tak Tuli Tuhan - Iwan Fals

Begitu halus tutur katamu
Seolah lagu termerdu
Begitu indah bunga-bungamu
Diatas karya sulam itu
Tampilkan kebajikan seorang ibu

Dengarlah detak jantung Benihku
yang ku tanam dirahim mu
seakan pasrah akan menerima
Semua warna yang kita punya
Segala rasa yang kita bina

Ku harap kesungguhanmu
Kaitkan jiwa bagai sulam dikarya itu
Ku harap keikhlasanmu
Sirami benih yang ku tabur ditamanmu
Oh jelas
Rakit pagar semakin kuat tak goyah
Walau diusik unggas

Pintaku pada Tuhan mulia
Jauhkan sifat yang manja
Bentuklah segala warna jiwanya
Di antara lingkup manusia
Di arena yang bau busuknya luka

Bukakan mata pandang dunia
Beri watak baja padanya
Kalungkan tabah kala derita
Semoga kau tak tuli Tuhan
Dengarlah pinta kami sebagai orangtuanya

Ngeriku - Iwan Fals

Bersih bersih bersih bersihlah negeriku
Malu malu malu malulah hati
Kotornya teramat gawat ya kotornya sangat
Inilah amanat yang menjadi keramat

Bersih bersih bersih bersihlah diri
Sebelum menyapu sampah dan debu debu
Nyanyian berkarat sampai ke liang lahat
Atas nama rakyat yang berwajah pucat

Negeriku negeri para penipu
Terkenal kesegala penjuru
Tentu saja bagi yang tak tahu malu
Inilah sorga sorganya sorga
Negeriku ngeriku

Busuk busuk busuk busuk bangkai tikus
Yang mati karena dihakimi rakyat
Adakah akhirat menerima dirinya
Adakah disana yang masih bisa bercanda dengan rakus

Negeriku negeri para penipu
Terkenal kesegala penjuru
Tentu saja bagi yang tak tahu malu
Inilah sorga sorganya sorga
Negeriku ngeriku

Bersih bersih bersih bersihlah negeriku

Di Mata Air Tidak Ada Air Mata - Iwan Fals

Memetik gitar dan bernyanyi
Pada waktu tak bertepi
Di atas langit di bawah tanah
Dihembus angin terseret arus

Untuk saudara tercinta
Untuk jiwa yang terluka

Tengah lagu suaraku hilang
Sebab hari semakin bising
Hanya bunyi peluru di udara
Gantikan denting gitarku

Mengoyak paksa nurani
Jauhkan jarak pandangku

Bibirku bergerak tetap nyanyikan cinta
Walau aku tahu tak terdengar
Jariku menari tetap tak akan berhenti
Sampai wajah tak murung lagi

Bibirku bergerak tetap nyanyikan cinta
Walau aku tahu tak terdengar
Jariku menari tetap tak akan berhenti
Sampai wajah tak murung lagi

Amarah sempat dalam dada
Namun akalku menerkam
Kubernyayi dimatahari
Kupetik gitar di rembulan

Dibalik bening mata air
Tak pernah ada air mata

Dibalik bening mata air
Tak pernah ada air mata

Ikrar - Iwan Fals

Meniti hari
Meniti waktu
Membelah langit
Belah samudra

Ikhlaslah sayang
Kukirim kembang
Tunggu aku
Tunggu aku

Rinduku dalam
Semakin dalam
Perjalanan
Pasti kan sampai

Penantianmu
Semangat hidupku
Kau cintaku
Kau intanku

Doakanlah sayang
Harapkanlah manis
Suamimu segera kembali

Doakanlah sayang
Harapkanlah manis
Suamimu suami yang baik

Ku titipkan
Semua yang kutinggalkan

Kau jagalah
Semua yang mesti kau jaga

Permataku
Aku percaya padamu

Permataku
Aku percaya padamu

Potret - Iwan Fals

Melihat anak anak kecil berlari larian
Di perempatan jalan kota kota besar
Mengejar hari yang belum dimengerti
Sambil bernyanyi riang menyambut resiko

Melihat anak anak sekolah berkelahi
Di pusat keramaian kota kota besar
Karena apa tak ada yang mengetahui
Sementara darah yang keluar bertambah banyak

Melihat anak anak muda diujung gang
Berkelompok tak ada yang dikerjakan
Selain mengeluh dan memanjakan diri
Hari esok bagaimana besok

Mendengar orang orang pandai berdiskusi
Tentang kesempatan yang semakin sempit
Tentang kemunafikan yang kian membelit
Tetapi tetap saja tinggal omongan

Merasa birokrat bersilat lidah
Seperti tukang obat dijalanan
Mencoba meyakinkan rakyat
Bahwa disini seperti di surga

Tak adakah jalan keluar ?

Aku Disini - Iwan Fals

Mengantuk perempuan setengah baya
Di bak terbuka mobil sayuran
Jam tiga pagi itu
Tangannya terangkat saat sorot lampu mobilku
Menyilaukan matanya
Aku ingat ibuku
Aku ingat istri dan anak perempuanku

Separuh jalan menuju rumah
Saat lampu menyala merah
Didepan terminal bis kota yang masih sepi
Aku melihat seorang pelacur tertidur
Mungkin letih atau mabuk
Aku ingat ibuku
Aku ingat istri dan anak perempuanku

Dibawah temaram sinar merkuri
Bocah telanjang dada bermain bola
Oh pagi yang gelap
Kau sudutkan aku

Suara kaset dalam mobil
Aku matikan
Jendela kubuka
Angin pagi dan nyanyian sekelompok anak muda
Mengusik ingatanku
Aku ingat mimpiku
Aku ingat harapan
Yang semakin hari semakin panjang tak berujung

Perempuan setengah baya
Pelacur yang tertidur
Bocah bocah bermain bola
Anak muda yang bernyanyi

Sebentar lagi ayam jantan
Kabarkan pagi
Hari harimu menagih janji
Aku disini
Ya aku disini
Ingat ibuku
Istri dan anak anakku

Belum Ada Judul - Iwan Fals

Pernah kita sama sama susah
Terperangkap didingin malam
Terjerumus dalam lubang jalanan
Digilas kaki sang waktu yang sombong
Terjerat mimpi yang indah
Lelah

Pernah kita sama sama rasakan
Panasnya mentari hanguskan hati
Sampai saat kita nyaris tak percaya
Bahwa roda nasib memang berputar
Sahabat masih ingatkah
Kau

Sementara hari terus berganti
Engkau pergi dengan dendam membara
Dihati

Cukup lama aku jalan sendiri
Tanpa teman yang sanggup mengerti
Hingga saat kita jumpa hari ini
Tajamnya matamu tikam jiwaku
Kau tampar bangkitkan aku
Sobat

Sementara hari terus berganti
Engkau pergi dengan dendam membara
Dihati

Coretan Dinding - Iwan Fals


Coretan di dinding
Membuat resah
Resah hati pencoret
Mungkin ingin tampil

Tapi lebih resah
Pembaca coretannya
Sebab coretan dinding
Adalah pemberontakan kucing hitam
Yang terpojok di tiap tempat sampah

Ditiap kota
Cakarnya siap dengan kuku kuku tajam
Matanya menyala mengawasi gerak musuhnya
Musuhnya adalah penindas
Yang menganggap remeh
Coretan dinding kota

Coretan dinding
Terpojok ditempat sampah
Kucing hitam dan penindas
Sama sama resah

Mereka Ada Di Jalan - Iwan Fals

Pukul tiga sore hari
Di jalan yang belum jadi
Aku melihat anak anak kecil
Telanjang dada telanjang kaki
Asik mengejar bola

Kuhampiri kudekati
Lalu duduk di tanah yang lebih tinggi
Agar lebih jelas lihat dan rasakan
Semangat mereka keringat mereka
Dalam memenangkan permainan

Ramang kecil Kadir kecil
Menggiring bola di jalanan
Ruli kecil Riki kecil
Lika liku jebolkan gawang

Tiang gawang puing puing
Sisa bangunan yang tergusur
Tanah lapang hanya tinggal cerita
Yang nampak mata hanya
Para pembual saja

Anak kota tak mampu beli sepatu
Anak kota tak punya tanah lapang
Sepak bola menjadi barang yang mahal
Milik mereka yang punya uang saja
Dan sementara kita disini di jalan ini

Bola kaki dari plastik
Ditendang mampir ke langit
Pecahlah sudah kaca jendela hati
Sebab terkena bola
Tentu bukan salah mereka

Roni kecil Heri kecil
Gaya samba sodorkan bola
Nobon kecil Juki kecil
Jegal lawan amankan gawang
Cipto kecil Suwadi kecil
Tak tik tik tak terinjak paku
Yudo kecil Paslah kecil
Terkam bola jatuh menangis

Mencetak Sawah - Iwan Fals

Kubaca koran pagi sambil ngopi
Ada kabar menarik hati
Konglomerat akan mencetak sawah
Diatas tanah milik siapa?

Aku jadi berpikir
Untuk apa berupaya membuat sawah?
Sebab tanah ini tak lagi berkah
Tak lagi ramah

Semua akan sia sia
Karena kami tak lagi makan nasi
Dari bumi pertiwi ini
Dari keringat pak tani

Tanah tanah suburmu
Sudah menjadi ranjang industri
Menjadi ayunan ambisi ambisi
Demi gengsi demi aksi

Untuk apa sawah sawah
Pak taniku sudah pergi
Menjadi pejalan kaki yang sepi

Ya Atau Tidak - Iwan Fals

Bicaralah nona
Jangan membisu
Walau sepatah kata
Tentu kudengar

Tambah senyum sedikit
Apa sih susahnya?
Malah semakin manis
Semanis tebu

Engkau tahu isi hatiku
Semuanya sudah aku katakan
Ganti kamu jawab tanyaku
Ya atau tidak itu saja

Bila hanya diam
Aku tak tahu
Batu juga diam
Kamu kan bukan batu

Aku tak cinta pada batu
Yang aku cinta hanya kamu
Jawab nona dengan bibirmu
Ya atau tidak itu saja

Tak aku pungkiri
Aku suka wanita
Sebab aku laki laki
Masa suka pria

Ah kuraslah isi dadaku
Aku yakin ada kamu disitu
Jangan diam bicaralah
Ya atau tidak itu saja

Besar Dan Kecil - Iwan Fals

Kau seperti bis kota atau truk gandengan
Mentang mentang paling besar klakson sembarangan
Aku seperti bemo atau sandal jepit
Tubuhku kecil mungil biasa terjepit

Pada siapa kumengadu?
Pada siapa kubertanya?

Kau seperti buaya atau dinosaurus
Mentang mentang menakutkan makan sembarangan
Aku seperti cicak atau kadal buntung
Tubuhku kecil merengit sulit dapat untung

Pada siapa kumengadu?
Pada siapa kubertanya?

Mengapa besar selalu menang?
Bebas berbuat sewenang wenang
Mengapa kecil selalu tersingkir?
Harus mengalah dan menyingkir

Apa bedanya besar dan kecil?
Semua itu hanya sebutan
Ya walau didalam kehidupan
Kenyataannya harus ada besar dan kecil

Kau seperti bis kota atau truk gandengan
Mentang mentang paling besar klakson sembarangan
Aku seperti bemo atau sandal jepit
Tubuhku kecil mungil biasa terjepit

Pada siapa kumengadu
Pada siapa kubertanya
Pada siapa kumengadu
Pada siapa kubertanya
Pada siapa kumengadu
Pada siapa kubertanya

Panggilan Dari Gunung - Iwan Fals

Panggilan dari gunung
Turun ke lembah lembah
Kenapa nadamu murung
Langkah kaki gelisah

Matamu separuh katup
Lihat kolam seperti danau
Kau bawa persoalan
Cerita duka melulu

Disini menunggu
Cerita yang lain
Disini menunggu
Cerita yang lain
Menunggu

Berapa lama diam
Cermin katakan bangkit
Pohon pohon terkurung
Kura kura terbius

Disini menunggu
Cerita yang lain
Disini menunggu
Cerita yang lain
Menunggu

Angan dan Ingin - Iwan Fals

Sambil tersenyum dan tanpa beban
Sepanjang jalan menarik perhatian 
Rambutnya panjang 
Rampingnya pinggang 
Celana blue jeans mengukir tubuhnya sempurna

Tua muda berangan melihatnya 
Seperti aku ingin bersamanya 
Tapi sayangnya 
Angan dan ingin 
Seperti angin

Tiada habisnya 
Tiada hentinya 
Melayang

Tiada habisnya 
Tiada hentinya 
Menggoyang

Tiada habisnya 
Tiada hentinya 
Menantang

Tiada habisnya 
Tiada hentinya 
Sehingga hujan turun 
mengecewakan

Sudah Berlalu - Iwan Fals

Mungkin sudah berlalu
Bersama redup senja
Kita bukanlah satu
Ku tak lagi kau puja

Kini tak akan lagi
Kuharap indah mimpi

Bila tak lagi kau resapi
Cinta hanya tuk dua hati
Jangan lagi kau ucap janji
Bila hanya kau ingkari

Frustasi - Iwan Fals

Generasiku banyak yang frustasi
Broken home istilah bule bule luar negeri
Mereka muak lihat papi mami bertengkar
Mereka jijik lihat papi mami selalu keluar

Ada urusan yang tak masuk diakal
Mami sibuk cari bujangan
Papi sibuk cari perawan

Timbang kesal lebih baik aku berhayal
Jadi orang besar seperti Hitler yang tenar
Jadi orang tenar persis Carter juragan kacang

Mata cekung badan persis capung
Tingkah sedikit bingung pikiran mirip mirip orang linglung
Rambut selalu kusut disuruh selalu manggut manggut
Duduk di sudut eh kasihan itu tubuh tinggal tulang sama kentut

Hei mister gelek
Lo tega mata gua kok nggak bisa melek
Hei mister gelek
Duit gopek gua kira cepek
Hei mister gelek
Perut laper ada tape pas gua sikat asem asem
Ndak taunya telek

16 Juli 1996 - Iwan Fals

Kukenal kamu dari jauh 
Tergetar hati melihatmu

Matamu bening
Suaramu bening 
Semangatmu hening

Wajahmu lembut 
Senyummu lembut 
Rambutmu lepas tergerai

Terasa sejuk mengenalmu 
Merdeka aku dibuaimu

Jalan yang panjang 
Sebatas pandang 
Kau tempuh tanpa mengeluh

Tangan terkepal 
Berangkatlah kapal 
Menuju dermaga sepi

Kunyanyikan hanya untukmu 
Puja puji ini karena rindu
Air mata terlanjur tumpah 
Membasahi tanah menjadi darah
Dipayungi mega kelabu

Aku tak peduli 
Apa yang terjadi 
Jangan kau pergi dariku
Akan kutemani 
Ke dermaga sepi 
Membelai ombak yang biru

Kau bangkitkan aku
Kupanggil kau selalu 
Bertahanlah dalam gelombang

Kau buka mataku 
Kau sadarkan aku 
Janganlah bosan
 
Kunyanyikan hanya untukmu 
Puja puji ini karena rindu 
Air mata terlanjur tumpah 
Membasahi tanah menjadi darah
Dipayungi mega kelabu

15 Juli 1996 - Iwan Fals

Kalau kau datang 
Hatiku senang 
Berbunga bunga
 
Bulan dan bintang 
Terangi malam
 Sehabis hujan

Saling bicara 
Tukar cerita
 Berbagi rasa

Aku disini 
Tetap di tepi 
Masih bernyanyi

Dunia sedang dilanda kalut 
Alam semesta seperti merintih 
Kau dengarkah?

Aku tak bisa 
Untuk tak peduli 
Hati tersiksa

Aku bersumpah 
Untuk berbuat 
Yang aku bisa

Harus ada yang dikerjakan 
Agar kehidupan berjalan wajar 
Hidup hanya sekali wahai kawan 
Aku tak mau mati dalam keraguan

Obat Awet Muda - Iwan Fals

Tante tante yang kesepian 
Bertingkah seperti perawan 
Berlomba lomba mencari pasangan 
Persis oplet tua yang cari omprengan
Di ujung jalan 
Saling berebut cari muatan

Slop dasi gaun model Paris 
Eye shadow parfum import
Duduk dibelakang stir mobil Mercedes 
Pasangannya seorang pemuda 
Yang jimatnya melebihi dosis 
Sebesar burung belibis 
Hey aku mendesis

Tuan yang merasa hidung belang 
Keranjingan main perempuan
Tak peduli itu istri orang 
Yang penting bisa ngasah pedang
Warisan dari nenek moyang 
Pedang tajam wanita ditendang

Jangan nyonya ingat dong suami 
Jangan tuan ingat anak istri
Jawab mereka apa ?
Justru itu harus kami lakukan 
Mengapa harus dilakukan ?Ndak tau ?
Karena itu karena itu
Obat awet muda

Nocturno - Iwan Fals (Kantata Takwa)

Aku rasa hidup tanpa jiwa
Orang yang miskin ataupun kaya
Sama ganasnya terhadap harta
Bagai binatang didalam rimba
Kini pikiranku kedodoran
Dilanda permainan yang brutal
Aku dengar denyut kesadaran
Tanganku capek mengetuk pintu
Sialan
Sialan
Jaman edan tanpa kewajaran
Gambar iklan jadi impian
Akal sehat malah dikeluhkan
Monyet sinting minta persenan
sumber www.rizkyonline.com
Sialan
Sogokan
Sialan
Sogokan
Aku panggil kamu jiwaku
Kugapai kamu dikegelapan
Jadilah kamu bintangku
Jadilah kamu samuraiku
Sialan
Sogokan
Godaan
Sialan
Sogokan
Godaan
Sialan
Godaan
Sialan

Pak Tua - Iwan Fals

Kamu yang sudah tua apa kabarmu?
Katanya baru sembuh katanya sakit
Jantung ginjal dan encok sedikit saraf
Hati hati pak tua istirahatlah

Diluar banyak angin

Kamu yang murah senyum memegang perut
Badanmu semakin tambun memandang langit
Hari menjelang maghrib pak tua ngantuk
Istri manis menunggu istirahatlah

Diluar banyak angin

Pak tua sudahlah
Engkau sudah terlihat lelah oh ya
Pak tua sudahlah
Kami mampu untuk bekerja oh ya

Pak tua oh oh oh

Tidur pak?

Belalang Tua - Iwan Fals

Belalang tua diujung daun warnanya kuning kecoklat-coklatan

Badannya bergoyang ditiup angin

Mulutnya masih saja mengunyah tak kenyang-kenyang

Sudut mata kananku tak sengaja melihat belalang tua yang rakus
Sambil menghisap dalam rokokku

Kutulis syair tentang hati yang khawatir

Sebab menyaksikan akhir dari kerakusan

Belalang tua yang tak kenyang-kenyang

Seperti sadar kuperhatikan, ia berhenti mengunyah

Kepalanya mendongak keatas

Matanya melotot melihatku tak senang kakinya mencengkeram daun

Empat di depan dua di belakang bergerigi tajam

Sungutnya masih gagah menusuk langit berfungsi sebagai radar

Belalang tua masih saja melihat marah ke arahku

Aku menjadi grogi dibuatnya aku tak tahu apa yang dipikirkan

Tiba-tiba angin berhenti mendesir daunpun berhenti bergoyang

Walau hampir habis daun tak jadi patah

Belalang yang serakah berhenti mengunyah

Kisah belalang tua diujung daun yang hampir jatuh tetapi tak jatuh

Kisah belalang tua yang berhenti mengunyah

Sebab kubilang kamu serakah

Oo .. oo .. oo .. oo belalang tua diujung daun

Dengan tenang meninggalkan harta karun

Warnanya hijau kehitam-hitaman

Berserat berlendir bulat lonjong sebesar biji kapas

Angin yang berhenti mendesir

Digantikan hujan rintik-rintik

Aku yang menulis syair

Tentang hati yang khawatir

Tak tahu kapan kisah ini akan berakhir
 

Oemar Bakri - Iwan Fals

Tas hitam dari kulit buaya
"Selamat pagi!", berkata bapak Oemar Bakri
"Ini hari aku rasa kopi nikmat sekali!"
Tas hitam dari kulit buaya
Mari kita pergi, memberi pelajaran ilmu pasti
Itu murid bengalmu mungkin sudah menunggu

(*)
Laju sepeda kumbang di jalan berlubang
S'lalu begitu dari dulu waktu jaman Jepang
Terkejut dia waktu mau masuk pintu gerbang
Banyak polisi bawa senjata berwajah garang


Bapak Oemar Bakri kaget apa gerangan
"Berkelahi Pak!", jawab murid seperti jagoan
Bapak Oemar Bakri takut bukan kepalang
Itu sepeda butut dikebut lalu cabut, kalang kabut, cepat pulang
Busyet... Standing dan terbang

Reff.
Oemar Bakri... Oemar Bakri pegawai negeri
Oemar Bakri... Oemar Bakri 40 tahun mengabdi
Jadi guru jujur berbakti memang makan hati
Oemar Bakri... Oemar Bakri banyak ciptakan menteri
Oemar Bakri... Profesor dokter insinyur pun jadi
Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikebiri


Kembali ke (*)
Bapak Oemar Bakri kaget apa gerangan
"Berkelahi Pak!", jawab murid seperti jagoan
Bapak Oemar Bakri takut bukan kepalang
Itu sepeda butut dikebut lalu cabut, kalang kabut
Bakrie kentut... Cepat pulang
Oemar Bakri... Oemar Bakri pegawai negeri
Oemar Bakri... Oemar Bakri 40 tahun mengabdi
Jadi guru jujur berbakti memang makan hati
Oemar Bakri... Oemar Bakri banyak ciptakan menteri
Oemar Bakri... Bikin otak orang seperti otak Habibie
Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikebiri

Doa - Iwan Fals

Berjamaah 

Menyebut asma ALLAH 

Saling asah saling asih saling asuh

BerdoalahSambil berusaha

Agar hidup jadi tak sia sia

Badan sehat
 
Jiwa sehat

Hanya itu yang kami mau

Hidup berkah 

Penuh gairah 

Mudah mudahan ALLAH setuju

Inilah lagu pujian 

Nasehat dan pengharapan

Dari hati yang pernah mati 

Kini hidup kembali

Sore Tugu Pancoran - Iwan Fals

Si budi kecil kuyup menggigil
Menahan dingin tanpa jas hujan
Di simpang jalan tugu pancoran
Tunggu pembeli jajakan koran

Menjelang maghrib hujan tak reda
Si budi murung menghitung laba
Surat kabar sore dijual malam
Selepas isya melangkah pulang

Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang, lemas jarimu terkepal

Cepat langkah waktu pagi menunggu
Si budi sibuk siapkan buku
Tugas dari sekolah selesai setengah
Sanggupkah si budi diam di dua sisi

Untukmu Negeri - Iwan Fals

Perihnya masih terasa
Sakitnya tak terhingga
Nafsu ingin berkuasa
Sungguh mahal ongkosnya

Apapun yang kan terjadi
Aku tak akan lari
Apalagi bersembunyi
Tak kan pernah terjadi

Air mata darah telah tumpah
Demi ambisi membangun negeri
Kalaulah ini pengorbanan
Tentu bukan milik segelintir orang

Belum cukupkah semua ini
Apakah tidak berarti
Lihatlah wajah ibu pertiwi
Pucat letih dan sedihnya berkarat
Berdoa terus berdoa

Hingga mulutnya berbusa busa
Ludahnya muncrat saking kecewa
Ibu pertiwi hilang tawanya
Tak percaya masih ada cinta

Seluruh hidupku jadi siaga
Pagar berduri kutancapkan dihati

Untukmu negeri
Yang telah memberi arti

Untukmu negeri
Yang telah melukai ibu kami

Untukmu negeri
Yang telah merampas anak kami

Untukmu negeri
Yang telah memperkosa saudara kami

Untukmu negeri
Waspadalah

Untukmu negeri
Bangkitlah

Untukmu negeri
Bersatulah

Untukmu negeri
Sejahteralah kamu negeriku
Sejahteralah kamu

Perihnya masih terasa
Sakitnya tak terhingga

Pengobral Dosa - Iwan Fals

Disudut dekat gerbong
Yang tak terpakai
Perempuan ber make up tebal
Dengan rokok ditangan
Menunggu tamunya datang

Terpisah dari ramai
Berteman nyamuk nakal
Dan segumpal harapan
Kapankah datang
Tuan berkantong tebal

Habis berbatang batang
Tuan belum datang
Dalam hati
Resah menjerit bimbang

Apakah esok hari
Anak anakku dapat makan
Oh Tuhan beri
Setetes rezeki

Dalam hati yang bimbang berdoa
Beri terang jalan anak hamba
Kabulkanlah Tuhan

Kisah Sepeda Motorku - Iwan Fals

Hei bapak kopral saya datang mau lapor
Tadi malam waktu saya sedang molor
Telah kehilangan sepeda motor
Dirumah teman saya yang bermata bolor

Baik anak muda kuterima laporanmu
Tapi mengapa kau lapor hari sudah bedug lohor
Juga kenapa kau lapor
Kok hanya pakai celana kolor

Tunggu saja sebulan nanti bapak beri kabar
Sekarang engkau boleh pulang

Lama kutunggu kabar dari bapak kopral
Kenapa nggak nongol-nongol
Sehingga gua dongkol

Lalu aku pergi menuju kantor polisi
Tapi nggak jadi
Sebab kabel listrik perut saya kortsleting
Oh kiranya saya lupa setor tadi pagi

Terpaksa sore hari saya baru pergi
Kontrol
Ternyata sepeda motor ada di garasi
Kantor polisi

Sudah tak beraki
Sudah tak berlampu
Tutup tengki hilang
Kaca spion kok melayang

Dia bilang waktu diketemukan
Sudah demikian

Memang tak beraki kok
Memang tak berlampu kok
Tutup tengki hilang
Kaca spion kok melayang

Bolehkah motor ini saya bawa pulang bapak kopral
Oh tentu saja boleh engkau bawa pulang
Asal engkau tahu diri
Mbok terima kasih

Dan Orde Paling Baru - Iwan Fals

KKN berkembang biak sampai kelurahan
Banyak orang yang kehilangan pegangan
Perlu pemimpin yang demokratis tapi bertangan besi
Kata seorang tokoh yang baru sembuh dari sakit

Sementara rakyat tidak perduli siapa yang mimpin
Yang penting kebutuhan hidup yang wajar terpenuhi
Kelaparan kemiskinan dan pengangguran masih terjadi
Ya banyak orang yang hidup dibawah garis kemiskinan

Kota besar menjadi magnit
Karena televisi mengiming imingi
Yang jelas rakyat butuh pendidikan
Tapi pendidikan yang didapat adalah rongsokan

Soal kesehatan sulit didahulukan
Sebab bisa makan sehari sekali saja sudah hebat
Jangan tanya soal sandang dan papan
Loakan dan kontrakan lah jadi jawaban
Juga kolong jembatan

Kapan ya bisa kembali normal
Karena memang keadaan ini tidak normal
Itu sebabnya bermunculan paranormal
Seperti jamur dimusim hujan

Tutup lubang gali lubang
Falsafah hidup jaman sekarang
Sebenarnya sih dari jaman dulu
Dari jaman orde lama, orde baru
Dan sampai sekarang ini
Jaman orde paling baru

KKN berkembang biak sampai kelurahan
Banyak orang yang kehilangan pegangan
Perlu pemimpin yang demokratis tapi bertangan besi
Kata seorang tokoh yang baru sembuh dari sakit

KKN berkembang biak sampai kelurahan

Aku Bukan Pilihan - Iwan Fals

Kini kumengungkap tanya
Siapakah dirinya?
Yang mengaku kekasihmu itu
Aku tak bisa memahami

Ketika malam tiba
Ku rela kau berada
Dengan siapa kau melewatinya
Aku tak bisa memahami

Aku lelaki tak mungkin
Menerima bila
Ternyata kau mendua
Membuatku terluka

Tinggalkan saja diriku
Yang tak mungkin menunggu
Jangan pernah memilih
Aku bukan pilihan

Selalu terungkap tanya
Benarkah kini ada
Wanita yang kukenal hatinya
Aku tak bisa memahami

Tak perlu kau memilihku
Aku lelaki, bukan untuk dipilih

Paman Doblang - Iwan Fals (Kantata Takwa)

Paman Doblang paman Doblang
Mereka masukkan kamu kedalam sel yang gelap
Tanpa lampu tanpa lubang cahaya
Oh pengap

Ada hawa tak ada angkasa (terkucil)
Temanmu beratus ratus nyamuk semata (terkunci)
Tak tahu kapan pintu akan terbuka
Kamu tak tahu dimana berada

Paman Doblang paman Doblang
Apa katamu?

(Ketika haus aku minum air dari kaleng karatan
Sambil bersila aku mengarungi waktu
Lepas dari jam, hari dan bulan Aku dipeluk oleh wibawa)

Tidak berbentuk, tidak berupa, tidak bernama
Aku istirahat disini
Tenaga gaib memupuk jiwaku

Paman Doblang paman Doblang
Di setiap jalan menghadang mastodon dan srigala
Kamu terkurung dalam lingkaran
Para pangeran meludahi kamu dari kereta kencana

Kaki kamu dirantai kebatang karang
Kamu dikutuk dan disalahkan tanpa pengadilan
Paman Doblang paman Doblang
Bubur di piring timah didorong dengan kaki kedepanmu

Paman Doblang paman Doblang
Apa katamu

Kesadaran adalah matahari
Adalah matahari adalah matahari

Kesabaran adalah bumi
Adalah bumi adalah bumi

Keberanian menjadi cakrawala
Menjadi cakrawala menjadi cakrawala

Dan perjuangan
Adalah pelaksanaan kata kata
Adalah pelaksanaan kata kata

Kesadaran adalah matahari
Adalah matahari adalah matahari

Paman Doblang paman Doblang
Apa katamu

Rinduku - Iwan Fals

tolong rasakan ungkapan hati
rasa saling memberi
agar semakin erat hati kita
jalani kisah yang ada

ku tak pernah merasa jemu
jika kau selalu di sampingku
begitu nyanyian rinduku
terserah apa katamu

rambutmu matamu bibirmu ku rindu
senyummu candamu tawamu ku rindu

beri aku waktu sedetik lagi
menatap wajahmu
esok hari ini atau nanti
mungkin tak kembali

ku tak pernah merasa jemu
jika kau selalu di sampingku
begitu nyanyian rinduku
terserah apa katamu

ku tak pernah merasa jemu
jika kau selalu di sampingku
begitu nyanyian rinduku
terserah apa katamu

rambutmu matamu bibirmu ku rindu
senyummu candamu tawamu ku rindu

17 Juli 1996 - Iwan Fals

Gonjang ganjing gonggongan anjing
Anjing herder sampai anjing peking
Dar der dor otak digedor
Dengan pelor hati di teror

Ngeles

Sas sis sus dengar desas desus
Banyak kasus bikin sakit usus
Hang heng hong berita bohong
Kongkalikong sindikat king kong

Cuek aje

Kwek kwek kwek suara bebek
Merem melek denger geledek
Dalam benteng diadu gambreng
Bandar judi tambah mentereng

Untung banyak doi

Sengkuni kilik sana sini
Kurawa dan Pandawa rugi
Dewa dewa kerjanya berpesta
Sambil nyogok bangsa manusia

Hancur

Hak asasi hidup disini
Tinggal kata tinggal piagam
Bukan keki bukan bukan patah hati
Sebab hukum berwajah muram

Busyet dah

Gonjang ganjing gonggongan anjing
Anjing herder sampai anjing peking
Dar der dor otak digedor
Dengan pelor hati di teror

Sas sis sus dengar desas desus
Banyak kasus bikin sakit usus
Hang heng hong berita bohong
Kongkalikong sindikat king kong

Kwek kwek kwek suara bebek
Merem melek denger geledek
Dalam benteng diadu gambreng
Bandar judi tambah mentereng

Sengkuni kilik sana sini
Kurawa dan Pandawa rugi
Dewa dewa kerjanya berpesta
Sambil nyogok bangsa manusia

Hak asasi hidup disini
Tinggal kata tinggal piagam
Bukan keki bukan bukan patah hati
Sebab hukum berwajah muram

Gonjang ganjing gonggongan anjing
Anjing herder sampai anjing peking
Dar der dor otak digedor
Dengan pelor hati di teror

Habis

Masih Bisa Cinta - Iwan Fals

Hari ini kau patahkan hatiku
Kau patahkan niatku
Kau patahkan semangatku

Entah mengapa ku masih bisa cinta
Bisa cinta padamu
Kumaafkan salahmu
sumber www.rizkyonline.com
Berjanjilah berjanjilah untuk
Datang padaku
Lihat mataku
Akan kucoba perhatikan kamu

Datang padaku
Rasa hatiku
Akan kucoba terus cinta kamu

Air mata tak akan ku uraikan
Hanya mengelus dada
Kumaafkan salahmu
 
Berjanjilah berjanjilah untuk
Datang padaku
Lihat mataku
Akan kucoba perhatikan kamu

Datang padaku
Rasa hatiku
Akan kucoba terus cinta kamu


(Berjanjilah berjanjilah)
Datang padaku
(Berjanjilah berjanjilah)
 Lihat mataku
(Berjanjilah berjanjilah)
 Rasa hatiku

Datang padaku

Kuda Lumping - Iwan Fals

Kuda lumping nasibnya nungging
Mencari makan terpontang panting
Aku juga dianggap sinting 
Sebenarnya siapa yang sinting?

Berputar putar dalam lingkaran 
Menari tak sadarkan diri 
Mata terpejam mengunyah beling
Mempertahankan hidup yang sulit

Kuda lumping nasibnya nungging 
Mencari makan terpontang panting 
Aku juga dianggap sinting 
Sebenarnya siapa yang sinting?

Mulutnya berbusa 
Nasibnya berbusa 
Tradisi berbusa 
Tradisi amblas

Nyanyi 
Penari bernyanyi
Sebelum 
Tergilas mati
Sunyi 
Hati sang penari 
Sebab
Hidup mereka telah tersisih

Berbaju sutra pandai menipu 
Membabi buta cari mangsa 
Mulut penipu berbau busuk 
Mempertahankan hidup yang busuk

Para penipu berkeliaran 
Makan tanah memperkosa fakta 
Saling menipu sesama penipu 
Tidak menipu jadinya tertipu

Mulutnya berbusa 
Nasibnya berbusa 
Tradisi berbusa 
Tradisi amblas

Nyanyi 
Penipu menyanyi 
Sebelum 
Mereka mati 
Sunyi 
Hati sang penipu 
Sebab
Tak bisa menipu diri sendiri

Kuda lumping megap megap 
Pelan pelan ditelan jaman 
Para penipu tunggu saatmu 
Kuda lumping menginjak mulutmu

Kuda lumping nasibnya nungging
Mencari makan terpontang panting 
Aku juga dianggap sinting 
Sebenarnya siapa yang sinting?

Para penipu berkeliaran 
Makan tanah memperkosa fakta 
Saling menipu sesama penipu 
Tidak menipu jadinya tertipu

Kuda lumping megap megap 
Pelan pelan ditelan jaman 
Para penipu tunggu saatmu 
Kuda lumping menginjak mulutmu
Amblas

Entah - Iwan Fals

entah mengapa aku tak berdaya
waktu kau bisikkan jangan aku kau tinggalkan
tak tahu dimana ada getar terasa
waktu kau katakan ku butuh dekat denganmu

seperti biasa aku diam tak bicara
hanya waktu pandangi bibir tipismu yang menari
seperti biasa aku tak sanggup berjanji
hanya mampu katakan aku cinta kau saat ini
entah esok hari, entah lusa nanti, entah

seperti biasa aku diam tak bicara
hanya waktu pandangi bibir tipismu yang menari
(seperti biasa aku tak sanggup berjanji
hanya mampu katakan aku cinta kau saat ini)

seperti biasa aku diam tak bicara
hanya waktu pandangi bibir tipismu yang menari
seperti biasa aku tak sanggup berjanji
hanya mampu katakan aku cinta kau saat ini
entah esok hari, entah lusa nanti, entah oh entah

sungguh mati perempuanku
aku tak mampu beri kasih sayang yang cantik
seperti kisah cinta di dalam komik
sungguh mati perempuanku
buang saja angan-angan itu lalu cepat peluk aku

lanjutkan saja langkah kita, rasalah rasalah
apa yang terasa, apa yang terasa, apa yang terasa

Ijinkan Aku Menyayangimu - Iwan Fals

Andai kau ijinkan 
Walau sekejap memandang 
Kubuktikan kepadamu
Aku meiliki rasa

*Cinta yang kupendam 
Tak sempat aku nyatakan
 Karena kau telah memilih
 Menutup pintu hatimu

Ijinkan aku membuktikan 
Inilah kesungguhan rasa
Ijinkan aku menyayangimu

Reff : 
Sayangku oh 
Dengarkanlah isi hatiku
Cintaku oh 
Dengarkanlah isi hatiku

Back to *

Bila cinta tak mungkin menyatukan kita
Bila kita tak mungkin bersama
Aku tetap menyayangimu

Back to Reff

Sayangku oh 
Dengarkanlah isi hatiku 
Aku sayang padamu 
Ijinkan aku membuktikan